Showing posts with label Mutiara-Mutiara Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Mutiara-Mutiara Hikmah. Show all posts

Friday, September 7, 2012

Allah melihat ke dalam hati kita ketika kita berdoa

Cikarang, 7 September 2012

Berdoa adalah aktifitas yang dilakukan setiap hari oleh seorang muslim, bagaimana tidak, sholat 5 waktu yang wajib itu sejatinya adalah doa, tapi kali ini saya tidak bermaksud membahas masalah sholatnya. Tapi tentang ketundukan hati kita ketika berdoa

Allah berfirman :
“(Dan) Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” (QS. Al Mukmin : 60) “(Dan) apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al Baqarah : 186)

Sedemikian dahsyat nya doa ini, tapi sadarkah setiap kita berdoa apakah yang kita minta ? tundukkah hati kita ketika itu ? khusukkah kita melakukannya ? penuh harapan ataukah hanya rangkaian hafalan yang kita tidak tahu artinya ? dan masih banyak pertanyaan lagi.
Sesungguhnya kita sedang mengemis kepada seorang raja ketika kita berdoa, raja itu adalah raja terbesar di alam, rajanya segala raja, yang memiliki segala yang kita minta, tentu kita harus bersungguh-sungguh, sadar-sesadar-sadarnya, dan mengerti kita sedang minta apa, beberapa hal ini untuk kita renungkan, untuk diri saya  sendiri, untuk saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku dan semuanya 

- Ketika kita berdoa, mengertikah kita kita sedang meminta apa ? kalau berdoa dengan doa yang mashyur dalam bahasa Arab, pelajari dulu maknanya, resapi dulu, sehingga ketika kita menengadahkan tangan meminta kepada Dzat yang Maha Pemurah itu, kita tidak seperti seekor burung beo yang pandai berkata-kata, tetapi sejatinya tidak mengerti apa yang dia ucapkan.
- Apakah kita khusu' dalam berdoa ? apakah kita berharap dengan sangat kepada Nya ? apakah hati kita ihklas ? Kebanyakan kita berdoa, tapi hati kita bercabang memikirkan hal-hal yang lain, bagaimana mengharapkan sesuatu kalau kita tidak serius memintanya ?

Ketika kita berdoa, Allah melihat ke dalam hati kita, bukan rangkaian kata-kata yang kita ucapkan

Mbah Jerangkong

Wednesday, May 4, 2011

Kisah seorang sopir bus

Based on true story,
diceritakan kembali oleh Mbah Jerangkong

Pada suatu sore lewatlah sebuah bus pariwisata berwarna putih membelah jalan tol jakarta, kebetulan kondisi lalu lintas sedang sepi, sehingga bus ini dengan leluasa melaju kencang.
Sesekali terdengar gelak tawa dari dalam bus itu, rupanya sekelompok orang menyewa bus ini untuk berwisata. Bus ini milik perusahaan penyewaan bus yang banyak disewa oleh perusahaan besar di Jakarta untuk mengantar karyawan mereka.

Semua berjalan lancar, orang-orang bahagia karena perjalanan yang meyenangkan, dan didalam bus sang sopir ditemani keneknya yang asyik bersiul-siul dekat pintu depan bus. Sampai saat mendekati sebuah flyover tiba-tiba bus itu oleng, berjalan zig-zag, orang-orang sontak terdiam, semua mata tertuju Pak Sopir, "Woii Pir mabok kau ya, bawa mobil yang bener tong", teriak seorang penumpang di bangku belakang, kenek bus juga menoleh ke arah Pak Sopir, namun Pak Sopir hanya diam, wajahnya terlihat tegang, keringat dingin mengucur deras, urat-urat di lehernya terlihat menegang.

Menaiki flyover mobil semakin oleng, wanita dan anak-anak menjerit-jerit, sedang penumpang laki-laki mulai menyumpah-nyumpah sambil berpegangan ke besi pegangan. Keadaan sangat genting saat itu, posisi bus diatas flyover dan mulai menabrak2 pembatas jalan, kalau sampai pembatas jalan jebol alhasil bakal terjun bebas kebawah. Situasi semakin menegangkan, penumpang semakin panik dan Pak Sopir masih membisu, terlihat dia berusaha berbicara, tapi hanya gumaman tidak jelas yang terdengar, terlihat beliau kesulitan mengendalikan laju bus. Tiba-tiba kenek melompat, seperti berebut kemudi dia berusaha mengendalikan jalannya bus supaya tidak jatuh kebawah.

Penumpang wanita mulai menangis melihat kejadian ini, reaksi penumpang lain bermacam-macam, ada yang bertakbir, ada yang bertobat, ada yang menyumpah-nyumpah. Tiba-tiba bus berguncang keras....."Braaakkkkk......." rupanya menabrak pembatas jalan dengan keras, tapi kenek berhasil menghentikan laju bus, sedikit badan bus sudah mengambang melewati pembatas jalan.

Orang-orang berebut keluar lewat pintu belakang, tiba-tiba seseorang menarik Pak Sopir keluar bus, sebuah pukulan mendarat telak di wajah Pak Sopir, berikutnya tendangan di perutnya, beberapa orang lainnya segera ikut membaur menghajar sopir malang itu, tendangan, pukulan, umpatan sudah tak terhitung mendarat di tubuh sopir malang itu, kenek berusaha melerai, tapi apa daya ia hanya seorang diri. Darah mengucur deras dari luka-luka Pak Sopir, polisi datang terlambat, kemudian datanglah mobil ambulance membawa Pak Sopir ke rumah sakit terdekat, di tengah jalan beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Hasil visum mengatakan, beliau terkena stroke waktu sedang bertugas, dan orang-orang menghabisinya tanpa mau tau apa sebabnya.

Seringkali kita menghakimi orang dengan kejam padahal seharusnya kita menimbang dan memeriksa dahulu, nasi sudah menjadi bubur, semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran kita di kemudian hari.

Tuesday, April 19, 2011

Pentingnya berdoa sebelum berkendaraan

Beberapa hari terakhir ini saya begitu ingin menulis sesuatu tentang berdoa sebelum berkendaraan, berkenaan dengan sebuah peristiwa yang terjadi pada saat saya pulang kerja di suatu malam. Waktu itu seperti biasanya kalau pulang kerja jam 7 PM akan sampai ditempat parkiran motor jam 8.30 PM, tak lupa memulai ritual yaitu menelepon kerumah dulu sebelum jalan, menanyakan apakah anak saya yang masih satu2nya sudah tidur atau belum. Dan ternyata dia belum tidur, bingo, berarti ada kesempatan ketemu dia dan bermain bersama sesaat sebelum dia tidur, akhirnya langsung tancap gas, dan terjadilah peristiwa itu, sebuah kecelakaan, yang membahayakan nyawa orang lain, walaupun tidak ada yang terluka dalam kejadia itu, tetapi langsung menyadarkan saya akan pentingnya sesuatu, yaitu "Berdoa Sebelum Berkendaraan".

Sebelumnya flash back dulu, selama hidup di Jakarta dalam 5 tahun, belum sekalipun saya mengalami kecelakaan, Alhamdulillah, (jadi yg tertarik untuk beli motor saya tidak bakal menyesal, masih lurus uy) heheh promo nih. Berbeda sekali dengan waktu saya kuliah (5 tahun juga) dalam masa itu banyak sekali saya mengalami kecelakaan di jalan, baik itu "Solo accident" maupun "Interactive accident".
Masih segar dalam ingatan saya kecelakaan pertama yang saya alami terjadi di jalanan antara Waduk Selorejo dan daerah Kandangan, di jalanan yang berliku-liku di lereng pegunungan, jalanan sempit dengan jurang di sisinya, ketika itu saya gagal mengeksekusi tikungan "Double U Turn" yang radiusnya sangat pendek sekali, belakangan saya tahu kalau melewati tikungan itu harus sangat rebah, banting kiri sedikit lalu langsung banting kanan, sangat menyenangkan kebut-kebutan disini, setiap belok mesti rebahan or else bakal nyelonong, waktu itu saya gagal menikung ke kanan, lalu keluar track dan jatuh di bawah tebing, syukurlah tidak jatuh ke sisi lain, karena kalau jatuh di sisi lain artinya masuk jurang, dan untungnya waktu itu lagi sepi, jadi tidak ada orang yang menertawakan, jatuh sendiri, bangun sendiri, walaupun sempat kesulitan karena ketindih motor.
Kecelakaan paling parah adalah waktu menabrak seorang gadis, sepulang dari Surabaya karena pengen sekali segera mencoba micro transmitter yang baru saya beli dari Surabaya untuk tugas akhir, tabrakan frontal yang mengakibatkan kaki gadis itu retak-retak tulang kakinya di beberapa lokasi, sampai harus masuk beberapa rumah sakit. Dengan biaya pengobatan yang harus saya tanggung sendiri waktu itu, karena tidak berani memberi tahu orang tua kalau saya mencelakakan orang lain.

Kembali tentang insiden malam itu, selama ini saya meyakini satu hal berdasarkan dari beberapa testimoni beberapa orang dan beberapa nasehat guru saya, kita akan terhindar dari musibah bisa dikarenakan oleh beberapa hal :


1. Orang yang bersedekah, tidak akan mendapat bala' atau musibah pada hari itu, pada beberapa buku dikisahkan ada seekor burung mengadu kepada Allah karena seorang pemburu selalu mengambil anaknya, sampai suatu hari Allah berjanji akan menghukum pemburu itu dengan mencabut nyawanya, tetapi apa yang terjadi lagi-lagi pemburu itu selamat setelah melakukan aksinya mengambil anak si burung. Akhirnya burung itu protes kepada Allah, jawab Allah pemuda itu selamat karena sebelum mengambil anak burung itu, dia bersedekah dengan memberikan bekalnya kepada orang yang minta makanan di jalan.
Jadi kesimpulannya orang yang bersedekah akan selamat dari mara bahaya pada hari itu.


2. Orang yang mengerjakan Shalat Dhuha juga akan selamat, mengapa ? karena Shalat Dhuha seperti sedekah.
“Pada pagi hari diwajibkan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir adalah sedekah. Begitu juga amar ma’ruf (memerintahkan kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim no. 1704)
Kesimpulannya orang yang mengerjakan Shalat Dhuha juga akan selamat dari mara bahaya.


3. Berdzikir, mengingat Allah bisa menyelamatkan kita. Seorang tukang ojek pernah bercerita kepada seseorang, "saya tidak pernah mengalami kecelakaan dijalan, karena saya selalu ingat pada Allah dengan berdzikir, saya yakin Allah akan mengawasi saya, kalau Allah mengawasi saya, bagaimana mungkin saya akan celaka ?"


4. Berdoa sebelum naik kendaraan adalah yang paling penting, seorang guru saya dulu menasehati, bacalah doa sebelum berkendaraan supaya kamu selamat, doa pertama, bacalah "Bismillahi tawakkaltu alallah, laa haula walaa quwwata illa billah"
“Jika seseorang keluar rumah, lalu dia mengucapkan “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya), maka dikatakan ketika itu: “Engkau akan diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga”. Setan pun akan menyingkir darinya. Setan yang lain akan mengatakan: “Bagaimana mungkin engkau bisa mengganggu seseorang yang telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan penjagaan?!” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Doa kedua adalah yang tercantu dalam Surat Hud 41.
"Bismillahi majreehaa wa mursaahaa" artinya "Dengan menyebut nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuh" ini adalah doa Nabi Nuh ketika akan masuk kapalnya.
Sedikit diperhatikan, walaupun dalam ayat tersebut tertulis "majrohaa" karena pakai huruf ro + fathah, tetapi dibaca "majreehaa", jadi ini satu-satunya huruf e dalam vokal Arab (CMIW).

Kedua doa itu selalu saya baca ketika akan berkendaraan, sampai kecelakaan pada malam itu mengingatkan saya, ternyata saya telah lalai tidak membacanya karena terlalu senangnya akan bertemu anak sepulang kerja.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi kebaikan untuk kita semua.

Cikarang, 6 August 2010,
Mbah Jerangkong

Seringkali kita lupa bersyukur

Dalam setiap saat, setiap hela nafas, setiap langkah, setiap gerakan bahkan setiap kedipan mata kita terdapat nikmat Allah, setiap bulir nasi yg kita suap, setetes air yang kita minum mengandung perintah syukur. Banyak sekali nikmat Allah yang kita terima setiap detiknya, bahkan kita tak akan sanggup menghitungnya. "Seandainya kalian menghitung nikmat Allah, tentu kalian tidak akan mampu" (An-Nahl: 18)

Bersyukur merupakan salah satu bentuk pengakuan kita sebagai hamba kepada Allah Sang Pencipta Yang Agung, dalam satu ayat disebutkan "Hai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezeki yang baik yang kami berikan kepadamu. Dan bersyukurlah kepada Allah jika memang hanya dia saja yang kamu sembah." (Al-Baqarah: 172)

Tapi kita seringkali melupakan untuk bersyukur, kita sering lalai dan terlena dalam harapan-harapan yang membuat kita menjadi insan manja, tidak tahan ujian, tidak tahan banting, lebay kalau saya bilang.

Misalnya masalah makanan, saat kita makan kita mengharapkan makanan enak, tetapi yang kita terima tidak seperti yang kita harapkan, saat itu kita merasa kecewa, padahal saat itu seharusnya kita menghaturkan syukur yang tak terhingga kepada Allah sehingga makanan itu sampai ke hadapan kita. Pernahkan kita fikirkan bagaimana makanan itu bisa sampai didepan kita, sebutir nasi dulu sajalah, sebelum menjadi nasi matang, perlu tangan lembut seorang tukang masak, mungkin ia seorang Ibu yang dengan bekerja sebagai tukang masak ia sangat berharap untuk dapat menghidupi anaknya dengan upahnya yang tidak seberapa, mungkin ia seorang karyawati kontrak yang bulan depan kontraknya habis dan tidak tahu akan bekerja apalagi setelah itu, atau sebelum nasi itu menjadi beras, mungkin seorang kuli telah mengantarkannya dengan berpeluh dan berpanas-panasan. Teringat seorang tukang becak yang dulu bekerja didekat rumah, beliau selain mengayuh becak juga menjadi kuli pengangkut beras, terlihat jelas dia sangat keberatan mengangkut beban 100kg di punggungnya dan beliau harus angkut beras-beras itu bolak-balik seharian dari truk ke gudang. Sebelumnya, beras itu tentulah ditanam di sawah oleh seorang petani, berpanas-panas dia berharap padinya tumbuh sehat dan padat, dan bisa dijual dengan harga pantas, padahal seringkali harganya jauh dibawah harga dasar pemerintah pada saat musim panen. Di sawah itu mungkin bekerja pula seorang buruh-buruh tani yang hidupnya sangat jauh dari berkecukupan. Dan masih panjang lagi rangkaian-rangkaian kisah yang terjadi tentang bagaimana sebutir nasi itu sampai di hadapan kita, kemudian setelah itu layakkah kita sia-siakan ? janganlah kita menghina Allah dengan menyia-nyiakan nikmat-Nya. Ambillah makanan yang ingin kamu makan dengan sekedarnya saja, dan tinggalkanlah yang tidak ingin kamu makan, jangan biasakan membuang-buang makanan.

Kakekku berumur 80 tahun lebih, beliau pernah bercerita, setelah penjajah Belanda pergi, makanan masih begitu susah diperoleh, untuk mendapat makanan pokok waktu itu yaitu singkong, harus berjalan lebih dari 30km dan itupun masih harus mengantri, Ibuku dan saudara-saudaranya yang masih kecilpun diajaknya bersama pula, itu hanya untuk singkong saja, beras merupakan makanan mewah pada saat itu, hanya pejabat-pejabat saja yang bisa mendapatkannnya.

Tentang makanan ini mari kita tengok kehidupan Rasullullah Muhammad SAW, berdasarkan riwayat, Aisyah r.a. pernah mengatakan, “ Dahulu Rasulullah saw tidak pernah mengenyangkan perutnya dengan dua jenis makanan. Ketika sudah kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah kenyang dengan kurma, beliau tidak akan makan roti”

At Tirmizi meriwayatkan daripada Masruq RA, katanya: “Aku telah menemui Aisyah r.a., lalu beliau menghidangkan sesuatu kepadaku dan berkata: Aku tidak pernah makan kenyang, ketika aku mulai makan, mulailah aku menangis. Masruq bertanya: Mengapa? Jawabnya: Aku teringat tentang Rasullullah SAW yang telah meninggalkan dunia ini, demi Allah! Rasulullah SAW tidak pernah kenyang dengan daging atau roti dua kali dalam sehari.”

Ibn Abbas RA bahawa beliau menceritakan: “Rasulullah SAW sering bermalam berhari-hari sedangkan Baginda dan keluarganya tidak mempunyai makanan yang dapat dimakan di malam hari dan roti yang sering dimakan Rasulullah SAW adalah yang diperbuat daripada gandum.”

Aisyah r.a. beliau menceritakan: “Keluarga Muhammad SAW tidak pernah kenyang dua hari berturut-turut dengan roti gandum. Keadaan tersebut berlaku sampai Rasulullah SAW wafat.”

Baru sedikit tentang makanan saja, ternyata kita tidak pandai mensyukurinya...
Al-Quran menyebutkan bahwa orang-orang yang bersyukurlah yang mau mengakui tanda-tanda kekuasaan Allah di dunia dan mengambil pelajaran darinya. "Adapun tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh dengan subur dengan izin Allah. Dan tanah yang gersang, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kebesaran kami bagi orang-orang yang bersyukur." (Al-A'raf: 58)

bersamsung...

Cikarang 8/7/10
Mbah Jerangkong

Kematian Bisa Diundur

Ustadz Yusuf Mansur,

Kematian memang di tangan Allah. Maka ada satu hal yang bisa membuat
kematian menjadi sesuatu yang bisa ditunda, yaitu kemauan bersedekah,
kemauan berbagi dan peduli.
SUATU hari, Malaikat Kematian mendatangi Nabiyallah Ibrahim, dan
bertanya, "Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?"
"Yang anak muda tadi maksudnya?" tanya Ibrahim.
"Itu sahabat sekaligus muridku." "Ada apa dia datang menemuimu?"
"Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya besok
pagi."
"Wahai Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak akan sampai besok
pagi." Habis berkata seperti itu, Malaikat Kematian pergi meninggalkan
Nabiyallah Ibrahim. Hampir saja Na-biyallah Ibrahim tergerak untuk
rriemberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan pernikahannya malam
ini, dan mem-beritahu tentang kematian anak muda itu besok. Tapi
langkahnya terhenti. Nabiyallah Ibrahim memilih kematian tetap menjadi
rahasia Allah.
Esok paginya, Nabiyallah Ibrahim ternyata melihat dan menyaksikan bahwa
anak muda tersebut tetap bisa melangsungkan pernikahannya.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan
tahun berganti tahun, Nabiyallah Ibrahim malah melihat anak muda ini
panjang umurnya.
Hingga usia anak muda ini 70 tahun, Nabiyallah Ibrahim bertanya kepada
Malaikat Kematian, apakah dia berbohong tempo hari sewaktu menyampaikan
bahwa anak muda itu umurnya tidak akan sampai besok pagi? Malaikat
Kematian menjawab bahwa dirinya memang akan mencabut nyawa anak muda
tersebut, tapi Allah menahannya.
"Apa gerangan yang membuat Allah menahan tanganmu untuk tidak mencabut
nyawa anak muda tersebut, dulu?"
"Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut
menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuatAllah
memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga engkau
masih melihatnya hidup."

Saudara-saudaraku, pembaca "Kajian WisataHati" dimanapun Anda berada,
kematian memang di tangan Allah. justru itu, memajukan dan memundurkan
kematian adalah hak Allah. Dan Allah memberitahu lewat kalam Rasul-Nya,
Muhammad shalla `alaih bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur. jadi,
bila disebut bahwa ada sesuatu yang bisa menunda kematian, itu
adalah...sedekah.
Maka, tengoklah kanan-kiri Anda, lihat-lihatlah sekeliling Anda. Bila
Anda menemukan ada satu-dua kesusahan tergelar. maka sesungguhnya
Andalah yang butuh pertolongan. Karena siapa tahu kesusahan itu digelar
Allah untuk memperpanjang umur Anda. Tinggal apakah Anda bersedia
menolongnya atau tidak. Bila bersedia, maka kemungkinan besar memang
Allah akan memanjangkan umur Anda.
Saudara-saudaraku sekalian, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan
ajalnya akan sampai. Dan, tidak seseorangpun yang mengetahui dalam
kondisi apa ajalnya tiba. Maka menge-luarkan sedekah bukan saja akan
memperpanjang umur, melainkan juga memungkinkan kita meninggal dalam
keadaan baik. Bukankah sedekah akan mengundang cintanya Allah? Sedangkan
kalau seseorang sudah dicintai oleh Allah, maka tidak ada masalahnya
yang tidak diselesaikan, tidak ada keinginannya yang tidak dikabulkan,
tidak ada dosanya yang tidak diampunkan, dan tidak ada nyawa yang
dicabut dalam keadaan husnul khatimah.
Mudah-mudahan Allah berkenan memperpanjang umur, sehingga kita semua
berkesempatan untuk mengejar ampunan Allah dan mengubah segala kelakuan
kita, sambil mempersiapkan kematian datang.
Sampai ketemu di pembahasan berikutnya. Insya Allah, kita masih membahas
"sedikit tentang menunda umur, tapi kaitannya dengan kesulitan-kesulitan
hidup yang kita hadapi ".

Salam, Yusuf Mansur.
Salam Wisata Hati.

Syukurilah makanan yang kita dapatkan

Pernahkah kita renungi sejenak, sejenak, sesungguhnya begitu berharganya setiap bulir nasi yang ada di piring kita. Bahkan Rasul mengajarkan untuk membersihkan sisa-sisa makanan di jari-jari kita sehabis makan, bukan dengan dilap tapi menjilati jari2 kita tersebut, karena kita tidak tahu dimanakah di bagian makanan yang kita makan itu yang diberkahi Allah.

Pernahkan kita sadari sesungguhnya makan bukanlah memasukkan sesuatu yang enak ke dalam perut kita, sehingga kita mengeluh kalau makanan yang kita dapatkan kurang enak, kemudian meninggalkannya begitu saja. Makan adalah mensyukuri nikmat Allah. Sudah dikaruniakan oleh-Nya makanan kepada kita tapi kita malah menyia-nyiakannya begitu saja.

Pernahkan kita sadari kita sering menghina Allah dengan makanan yang diberikannya kepada kita? kita berdoa sebelum makan, mengucapkan terimakasih, syukur dan puji-pujian dan harapan, kemudian setelah kita rasakan makanannya tidak berkenan di lidah kita kemudian kita sisakan begitu saja, kita makan sedikit bagian enaknya saja, bukankah itu sama saja dengan mengucapkan "ah makannya ga enak Allah, aku ga mau makan, kubuang saja, aku akan mencari yang lebih enak". Lalu apa arti doa kita sebelum makan tadi ? Bukankah itu sama dengan sombong dihadapan Allah ?

7 June 2008,
Mbah Jerangkong